Lomba Marching Band: Harmoni Musik dan Kekompakan Tim
Marching band adalah salah satu seni pertunjukan yang memadukan musik, tarian, dan formasi barisan. Lomba marching band menjadi ajang bergengsi bagi para pelajar, komunitas seni, hingga organisasi untuk menampilkan kreativitas dan keterampilan mereka. Di setiap kompetisi, para peserta tidak hanya diukur dari kualitas musik yang dihasilkan, tetapi juga kekompakan tim, inovasi koreografi, dan semangat juang yang mereka tunjukkan.
Persiapan menjadi kunci kesuksesan dalam lomba marching band. Berikut adalah tahapan yang biasanya dilakukan:
Setiap anggota marching band harus menguasai teknik memainkan alat musik, seperti alat tiup (terompet, tuba, klarinet), perkusi, hingga alat musik tambahan lainnya. Latihan intensif dilakukan untuk memastikan setiap nada terdengar sempurna.
Keindahan marching band terletak pada perpaduan antara musik dan gerakan. Tim biasanya bekerja sama dengan pelatih atau koreografer untuk menciptakan formasi yang unik dan sesuai dengan tema yang diusung.
Lomba marching band menuntut koordinasi yang tinggi. Semua anggota, mulai dari pemain alat musik hingga colour guard, harus bergerak dalam harmoni. Latihan rutin menjadi cara efektif untuk membangun kekompakan.
Desain kostum yang menarik dan properti yang mendukung tema menjadi elemen penting dalam penampilan marching band. Kombinasi visual ini dapat menambah nilai estetika di mata juri dan penonton.
Dalam lomba marching band, juri menilai peserta berdasarkan berbagai aspek, seperti:
Berpartisipasi dalam lomba marching band memberikan banyak manfaat, di antaranya:
Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di MTs Ihyaul Ulum: Membentuk Generasi Berkarakter dan Cinta Tanah Air
Upacara pengibaran bendera merah putih merupakan tradisi mingguan yang rutin dilaksanakan di MTs Ihyaul Ulum. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan memiliki makna mendalam untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan rasa cinta tanah air kepada seluruh warga sekolah.
Sebelum upacara dimulai, para petugas, termasuk pasukan pengibar bendera (Paskibra), pembaca doa, dan pemimpin upacara, melakukan persiapan dengan matang. Mereka mendapatkan bimbingan dari guru pembina untuk memastikan jalannya upacara berlangsung lancar dan khidmat.
Siswa diwajibkan memakai seragam rapi sesuai jadwal, dengan atribut lengkap, seperti dasi dan topi, sebagai bentuk penghormatan kepada simbol negara.
Upacara dimulai tepat pukul 07.00 di lapangan sekolah. Berikut adalah rangkaian kegiatan:
Setelah upacara selesai, pembina memberikan evaluasi singkat kepada para petugas dan peserta untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan upacara di minggu berikutnya.
Upacara pengibaran bendera bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi memiliki banyak manfaat:
MTs Ihyaul Ulum memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaan upacara ini. Sekolah menyediakan pelatihan khusus bagi Paskibra, melibatkan guru sebagai pembimbing, dan memastikan fasilitas, seperti pengeras suara dan tiang bendera, selalu dalam kondisi baik.
Upacara pengibaran bendera di MTs Ihyaul Ulum adalah salah satu wujud nyata dalam membentuk generasi yang berkarakter, disiplin, dan mencintai tanah air. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang pentingnya nasionalisme, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga yang akan membekali mereka di masa depan.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, keterampilan dalam bidang komputer menjadi salah satu kebutuhan penting di dunia pendidikan. MTs Ihyaul Ulum memahami pentingnya kemampuan ini dan memberikan pembelajaran yang aplikatif, salah satunya melalui kegiatan perakitan komputer.
Tahapan Proses Perakitan Komputer
Di MTs Ihyaul Ulum, siswa diajarkan keterampilan dasar hingga menengah dalam perakitan komputer. Proses ini dilakukan secara bertahap agar siswa dapat memahami dan menguasai setiap langkahnya. Berikut adalah tahapan yang dilakukan:
1. Pengenalan Komponen Komputer
Sebelum memulai perakitan, siswa diperkenalkan dengan berbagai komponen komputer, seperti motherboard, prosesor, RAM, hard disk, power supply, casing, dan lainnya. Guru menjelaskan fungsi masing-masing komponen dan bagaimana cara kerjanya.
2. Persiapan Peralatan dan Komponen
Setelah memahami teori, siswa diminta untuk mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, seperti obeng, kabel, dan komponen komputer. Kebersihan dan keamanan kerja juga menjadi perhatian utama untuk memastikan proses berjalan lancar.
3. Proses Perakitan
Tahap inti adalah merakit komputer. Siswa melakukan langkah-langkah berikut di bawah bimbingan guru:
4. Pengujian Sistem
Setelah semua komponen dirakit, komputer dihidupkan untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. Jika ada masalah, siswa diajarkan cara mendiagnosis dan memperbaikinya.
5. Instalasi Sistem Operasi
Tahap akhir adalah menginstal sistem operasi, seperti Windows atau Linux, agar komputer siap digunakan.
Manfaat Kegiatan Perakitan Komputer
Melalui kegiatan ini, siswa MTs Ihyaul Ulum mendapatkan berbagai manfaat:
Dukungan dan Fasilitas di MTs Ihyaul Ulum
Untuk mendukung pembelajaran, MTs Ihyaul Ulum menyediakan laboratorium komputer yang dilengkapi dengan alat dan bahan yang memadai. Guru yang kompeten di bidang teknologi informasi juga selalu siap membimbing siswa dalam setiap tahap pembelajaran.
Kesimpulan
Proses perakitan komputer di MTs Ihyaul Ulum merupakan salah satu langkah nyata dalam mempersiapkan generasi muda yang melek teknologi. Dengan keterampilan ini, siswa tidak hanya belajar tentang komputer tetapi juga mengembangkan kemampuan problem-solving, kreativitas, dan kerja sama tim.
PENGUMUMAN PENERIMAAN SISWA BARU DI MTS IHYAUL ULUM
Di Madrasah Tsanawiyah Ihyaul Ulum (MATSIU), berbagai langkah konservasi energi telah diterapkan sebagai bagian dari program sekolah berwawasan lingkungan. Kepala madrasah memberlakukan kebijakan yang mencakup penghematan penggunaan listrik, air, bahan bakar, serta pemanfaatan fasilitas sekolah secara efisien.
Melalui upaya bersama ini, kebiasaan hemat energi semakin melekat di kalangan siswa, guru, dan staf madrasah. Para guru secara aktif memberikan edukasi terkait cara-cara sederhana menghemat energi, seperti meminimalkan konsumsi listrik. Edukasi ini bertujuan untuk membentuk kesadaran siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan dan turut serta mewujudkan sekolah yang ramah energi.
Salah satu langkah konkret yang diterapkan adalah penggunaan peralatan listrik hemat energi di seluruh area madrasah. Selain itu, siswa dan staf didorong untuk mematikan lampu, kipas angin, dan perangkat elektronik lainnya di ruangan yang tidak sedang digunakan, terutama saat siang hari ketika pencahayaan alami cukup memadai. Perangkat elektronik seperti komputer dimatikan atau di-shutdown jika tidak digunakan dalam waktu lama. Sebelum meninggalkan sekolah, petugas memastikan semua sumber listrik telah dicabut guna menghindari pemborosan energi.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti telepon dan internet diatur agar hanya digunakan untuk keperluan penting. Penggunaan kendaraan operasional juga dibatasi hanya untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak. Langkah ini tidak hanya bertujuan menghemat bahan bakar, tetapi juga mendukung pengurangan emisi polusi serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan efisien.
Untuk menanamkan budaya hemat energi, pihak madrasah berupaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan siswa. Langkah-langkah sederhana ini diharapkan dapat membawa dampak positif, tidak hanya bagi madrasah tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Dengan bersama-sama melakukan upaya ini, madrasah turut mendukung keberlanjutan cadangan energi nasional, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, sehat, dan berorientasi pada masa depan.
Page 2 of 3